3 Penderitaan Yang Hanya Dirasakan Warga Keturunan Tionghoa

Tentu saja sebelum dilahirkan ke dunia ini, kita tidak bisa request secara khusus kepada Tuhan agar dilahirkan di keluarga tertentu, di negara tertentu, atau dari suatu ras tertentu. Dengan niatan agar kelak ketika sudah berada di dunia ini, kita akan menjadi orang yang mulia dan enak hidupnya. Yang perlu diingat, sebenarnya Tuhan telah memilihkan kehidupan yang paling cocok untuk kita di dunia ini, entah lahir sebagai orang dengan ras apapun.

Sejauh ini, di Indonesia banyak terjadi kasus rasisme yang cukup berat dan melibatkan etnis-etnis tertentu. Tentu saja kasus rasisme telah ada sejak dulu kala dan seolah telah mendarah daging di antar penduduk Indonesia. Mungkin memang benar adanya, jika penyebab kasus rasisme di Indonesia saat ini adalah buntut panjang dari permasalaha leluhur-leluhur kita di masa lalu entah siapa yang memulai.


Say No To Racism (Foto: dalia1991.deviantart.com)

Dan bicara tentang rasisme, tentu saja tak akan pernah lepas dari etnis yang satu ini, yaitu etnis Tionghoa. Sudah sejak dulu banya paradigma yang seolah-olah menyertai kemanapun mereka pergi di tanah air ini. Dan berikut ini 3 Penderitaan Yang Hanya Dirasakan Warga Keturunan Tionghoa.
 
1. Seringnya mendapat stigma buruk
 
"Orang cina itu pelit, kasar, melihara anjing, dan lain sebagainya" pasti di antara kamu sudah sering dengar dengan ucapan tersebut. Itu salah satu stigma yang sering menyertai warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Padahal, warga Tionghoa di Indonesia tidak ada bedanya dengan warga lain di negri ini, entah itu jawa, ambon, batak, sunda dan lain sebagainya. Maksudnya adalah, mereka sama-sama manusia, tidak ada yang semuanya dermawan, sekaligus tidak ada yang semuanya pelit, entah dari suku ras apapun dia, termasuk etnis tionghoa.

2. Sering di"kotak-kotakkan"

Pasti sudah banyak yang tahu tentang kata-kata "pecinan" bukan?? ya, pecinan merupakan perkampungan yang mayoritas penduduknya warga keturunan Tionghoa. Sebenarnya, untuk yang satu ini, orang indonesia yang non-cina mewarisi sikap mengkotak-kotakkan ini dari penjajah belanda. 
 
Kala itu belanda sengaja menempatkan penduduk pendatang dari Tiongkok dalam satu tempat khusus.  Agar perdagangan mereka tak berkembang, sehingga ekonomi pemerintah Belanda sendiri takkan kena dampak. Alih-alih menderita, orang-orang Tionghoa ini justru bisa berkembang di tanah pecinan yang sempit itu. 

3. Pernah Menjadi Golongan Kelas Dua

Pada masa pemerintahan orde baru, para warga tionghoa pernah menjadi golongan kelas dua. Bahkan saat itu, untuk sekedar mengurus KTP saja, sulitnya minta ampun, karena namanya mengadung unsur cinanya. Namun setelah era reformasi, hal tersebut dihapuskan. bahkan Presiden saat itu, Gus Dur mencabut peraturan tentang larangan dirayakannya hari Imlek. Dengan begitu, selain warga Tionghoa mendapatkan hak dan kewajiban yang sama dengan warga lainnya, hari libur nasional juga tambah satu, Asyiiikkk.. (^_^)
 

Nah, itulah 3 Penderitaan Yang Hanya Dirasakan Warga Keturunan Tionghoa di tanah air ini. Sekarang zaman telah berlalu dan kini sikap rasisme terhadap orang Tionghoa pun juga sudah terkikis. Mereka sudah menjadi bagian dari Indonesia. Sekarang, siapa pun itu, Cina, Jawa, Sunda, Batak dan lainnya, kita ada di bawah bendera yang sama. Punya hak serta kewajiban yang sama pula. Bhinneka Tunggal Ika (^_^)

0 Response to "3 Penderitaan Yang Hanya Dirasakan Warga Keturunan Tionghoa"

Posting Komentar